PENGENDALIAN VIRUS DAN PENYAKIT PADA TANAMAN CABAI DENGAN MENGGUNAKAN PESTISIDA (BAKTERISIDA)

PENGANTAR 
selain organisme pengganggu tanaman (OPT), yang menyebabkan kerusakan pada tanaman (cabai) juga bisa disebabkan oleh penyakit. yang dimaksud penyakit pada tanaman adalah adanya perubahan seluruh atau sebagian organ-organ tanaman yang menyebabkan terganggunya kegiatan fisiologisnya, atau penyimpangan dari keadaan normal.

Penyebab sakit (Phatogen) ini bermacam-macam :Bakteri, Cendawan, Virus, kekurangan atau kelebihan air, kekurangan atau kelebihan unsur hara atau karena tanaman mendapatkan stress lingkungan misalnya suhu lingkungan yang terlalu panas atau terlalu dingin.

BAKTERI PENYERANG TANAMAN CABAI
  • Penyakit Layu Bakteri Ralstonia (Ralstonia solanacearum)
Penyebab : Pseudomonas solanacearum, bakteri ini ditularkan melalui tanah, benih, bibit, sisa-sisa tanaman, pengairan, nematoda atau alat-alat pertanian.
Gejala : Pada tanaman tua, layu pertama biasanya terjadi pada daun yang terletak pada bagian bawah tanaman. Pada tanaman muda, gejala layu mulai tampak pada daun bagian atas tanaman. Setelah beberapa hari gejala layu diikuti oleh layu yang tiba-tiba dan seluruh daun tanaman menjadi layu permanen, sedangkan warna daun tetap hijau, kadang-kadang sedikit kekuningan. Jaringan vaskuler dari batang bagian bawah dan akar menjadi kecoklatan. Bila batang atau akar dipotong melintang dan dicelupkan ke dalam air yang jernih,
maka akan keluar cairan keruh koloni bakteri yang melayang dalam air menyerupai kepulan asap. Serangan pada buah menyebabkan warna buah menjadi kekuningan dan busuk. Infeksi terjadi melalui lentisel dan akan lebih cepat berkembang bila ada luka mekanis. Penyakit berkembang
dengan cepat pada musim hujan.
  • Penyakit Busuk Buah Antraknosa (Collectrotichumgloeospoiroides)
Gejala awal penyakit ini ditandai dengan munculnya bercak yang agak mengkilap, sedikit terbenam dan berair, berwarna hitam, orange dan coklat. Warna hitam merupakan struktur dari cendawan (mikro skelerotia dan aservulus), apabila kondisi lingkungan lembab tubuh buah akan berwarna orange atau merah muda.
  • Penyakit Virus kuning (Gemini Virus)
Gejala serangan : Helai daun mengalami vein clearing dimulai dari daun pucuk berkembang menjadi warna kuning jelas, tulang daun menebal dan daun menggulung ke atas. Infeksi lanjut dari gemini virus menyebabkan daun mengecil dan berwarna kuning terang, tanaman kerdil dan tidak berbuah. Keberadaan penyakit ini sangat merugikan karena mampu mem pengaruhi produksi buah.

BAKTERISIDA
Bakterisida memiliki beberapa kandungan bahan aktif, diantaranya: Streptomicin Sulfat, Oksitetrasiklin, dll.Bakterisida adalah jenis pestisida yang dibuat dan digunakan secara spesifik untuk mengendalikan penyakit pada tanaman yang disebabkan oleh bakteri.bakterisida antara lain dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit layu bakteri,kerak bakteri, hawar daun bakteri, bercak bakteri,bakterial speck, dan peenyakit lain yang disebabkan oleh bakterilainnya.

Prodak bakterisida:
  • Agrept

Agrept mempunyai bahan aktif streptomisin sulfat 25 %bakterisida tersebut, dibuat dalam bentuk bubuk, yang sebelum dipakai harus dilarutkan oleh air terlebih dahulu. agrept bersifat sistemik, bisa masuk ke dalam jaringan tanaman, menjadikan jaringan itu bersifat racun bagi bakteri.
  • Agrimycin

berisi bahan aktif berupa (Streptomisin sulfat) 15 %, juga mengandung oksitetra siklin 1,5 %.dibuat dalam bentuk bubuk, yang sebelum dipakai harus dilarutkan oleh air terlebih dahulu. agrept bersifat sistemik, bisa masuk ke dalam jaringan tanaman, menjadikan jaringan itu bersifat racun bagi bakteri.
  • Bactoyn (bahan aktif oksitetrasiklin)

  • PLANTOMYCIN 7WP

Nama Bahan         Streptomicin Sulfat 6,41 %
No.                       Daftar RI. 2303/12-2005/T
Pabrik                   PT. TECHKING ENTERPRISES INDONESIA
Berat                     10 Gram
PLANTOMYCIN 7WP merupakan Bakterisida sistemik berbentuk bubuk berwarna putih yang dapat disuspensikan dalam air, untuk mengendalikan penyakit hawar daun bakteri Xantomonas oryzae. Pada pertanaman padi.untuk mengendalikan penyakit busuk batang, busuk buah, busuk akar dan juga penyakit layu yang disebabkan oleh bakteri. Plantomycin 7WP bisa digunakan untuk semprot kocoran, dapat dicampur dengan bahan pestisida lainnya seperti : fungisida dan calsium, juga bisa dicampur dengan pupuk dasar maupun pupuk kocor.
  • KUPROXAT 345 SC

KUPROXAT 345 SC merupakan fungisida yang juga berfungsi sebagai bakterisida. Berbahan aktif tembaga oxysulfat direkomendasikan untuk mengendalikan penyakit hawar daun pada padi sawah (Kresek), penyakit antraknosa pada tanaman cabai, penyakit blendok pada jeruk dan penyakit busuk buah pada kakao.

KEUNGGULAN PRODUK :
KUPROXAT 345 SC mengandung tri-basic Copper Sulfate sebagai bahan aktif
  1. Efektif baik sebagai fungisida maupun bakterisida karena ukuran partikelnya yang sangat halus dan daya melekatnya yang baik.
  2. Satu-satunya produk berbahan aktif tembaga yang difrormulasi dalam bentuk cair.
  3. Spektrum yang luas yang bekerja secara multisite, sehingga jamur resisten menjadi sangat kecil.
  4. Pelepasan ion Cu terkontrol dengan baik dan bersifat slow release sehingga tidak fitotoksik terhadap tanaman dan dapat melindungi tanaman dari jamur dan bakteri dalam waktu yang lama.
  5. Ukuran partikel paling kecil dibanding fungisida tembaga lainnya sehingga penutupan yang baik pada tanaman.
  6. Bersifat rainfastness (tahan terhadap pencucian air hujan).
  7. PH formulasi dan larutan semprot bersifat netral, sehigga tanaman tidak akan stress pada saat disemprot.
  8. Stabilitas suspensi yang tinggi pada larutan dalam tangki, sehingga tidak ada pengendapan dan tidak menyumbat nozzle.
REKOMENDASI PENGGUNAAN

Dan masih banyak lagi produk lainnya yang bisa digunakan untuk penanggulangan penyakit pada tanaman yang disebabkan oleh bakteri.

Demikian, semoga bermanfaat terimakasih (Ansor Musalam)





REFERENSI PESTISIDA (AKARISIDA) UNTUK MENGENDALIKAN TUNGAU PADA TANAMAN CABAI

AKARISIDA

Pengertian 
Secara etimologi akarisida berasal dari bahasa yunani yaitu dari kata Acarina: Tungau Cide: membunuh. atau secara umum Akarisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang digunakan untuk membunuh tungau, caplak, dan laba-labayang atau yang disebabkan oleh rumpun keluarga tungau (memiliki 4 pasang kaki)
Tungau adalah sekelompok hewan kecil bertungkai delapan yang, bersama-sama dengan caplak, menjadi anggota superordo Acarina. Tungau bukanlah kutu dalam pengertian ilmu hewan walaupun sama-sama berukuran kecil (sehingga beberapa orang menganggap keduanya sama). Apabila kutu sejati merupakan anggota Insecta (serangga), tungau lebih berdekatan dengan laba-laba dilihat dari kekerabatannya.

Hewan ini merupakan salah satu avertebrata yang paling beraneka ragam dan sukses beradaptasi dengan berbagai keadaan lingkungan. Ukurannya kebanyakan sangat kecil sehingga kurang menarik perhatian hewan pemangsa besar dan mengakibatkan ia mudah menyebar.

Banyak di antara anggotanya yang hidup bebas di air atau daratan, namun ada anggotanya yang menjadi parasit pada hewan lain (mamalia maupun serangga) atau tumbuhan, bahkan ada yang memakan kapang. Beberapa tungau diketahui menjadi penyebar penyakit (vektor) dan pemicu alergi. Walaupun demikian, ada pula tungau yang hidup menumpang pada hewan lain namun saling menguntungkan. Di bidang pertanian, tungau menimbulkan banyak kerusakan pada kualitas buah jeruk (umpamanya tungau karat buah Phyllocoptura oleivera Ashmed dan tungau merah Panonychus citri McGregor)[1], merusak daun ketela pohon dan juga daun beberapa tumbuhan Solanaceae (cabai dan tomat). Tungau juga menyebabkan penyakit skabies, penyakit pada kulit yang mudah menular.Bagian tanaman yang diserang adalah daun, batang, dan buah. Bagian tanaman yang diserangnya akan mengalami peubahan warna, bentuk, timbul bisul-bisul, atau buah rontok sebelum waktunya. Jenis tungau merah terkenal sangat ganas. Lebih dari 100 jenis tanaman diserang.

Bila udara panas dan kering perkembangannya sangat pesat. Betina bisa bertelur pada daun atau buah lebih dari 100 butir. Namun pada saat hujan lebat populasinya akan menurun drastic. Menyerang tanaman dengan mulutnya dengan cara menggigit, mnghisap, menggergaji, atau menusuk.

Jenis-Jenis Akarisida:
Akarisida meripakan bagian dari ragam jenis pestisida berdasarkan funfsinya. adapun dalam prodaknya akarisida memiliki banyak ragam jenis diantaranya yaitu: 
  • SAMITE 135EC
Nomor Pendaftaran : RI. 01140119981449
SAMITE 135EC, adalah akarisida racun kontak berbentuk pekatan yang dapat diemulsikan berwarna kuning terang, digunakan untuk mengendalikan hama tungau pada pertanaman Cabai, Jeruk dan Teh.
IDENTIFIKASI PRODUK :
- Nama Produk : SAMITE 135EC
- Bahan Aktif : Piridaben 135 g/l
- Jenis produk : Akarisida
- Nama kimia : 2-tert-butyl-5(4-tertbutylbenzen-ylthio)-4-chloropyridazin-3(2H)-one
- Rumus empiris : C19H25ClN2O S
 
PETUNJUK PENGGUNAAN :

  • Alfamex 18ec

Alfamex 18ec merupakan insektisida dan akarisida racun kontak dan lambung yang bekerja secara sistemik berbentuk pekatan coklat kehitaman yang dapat diemulsikan untuk mengendalikan hama yang tersembunyi di balik dan di dalam daun untuk mengendalikan hama Thrips sp, Ulat Grayak, Kutu Kebul, Thrips Aphids, dan mengatasi gejala serangan Liriomyza Sp.
  • PEGASUS 500SC


Nama Bahan        Diafentiuron 500 g/l
No. Daftar            RI. 1031/8-2006/T
Pabrik                  PT Syngenta Indonesia
Isi                         80 ml

PEGASUS 500SC merupakan Insektisida yang bersifat akarisida bekerja sebagai racun kontak dan perut, berbentuk pekatan dan suspense berwarna putih ke abu-abuan yang dapat larut dalam air, untuk mengendalikan hama serangga, ualat grayak, lalat buah, kutu daun, dan hama trhips pada tanaman apel, bawang merah, cabai, kentang, kubis, semangka, dan tomat.
  •  MEOTHRIN 50 EC

MEOTHRIN 50 EC merupakan insektisida yang juga akarisida, dari golongan pirethroid yang efektif mengendalikan tungau dan berbagai jenis hama tanaman sayuran dan buah-buahan, seperti ulat grayak Spodoptera exigua pada bawang merah, dan bawang putih, ulat grayak Spodoptera litura dan tungau Tetranychus sp. pada cabai, perusak daun Plutella xylostella dan ulat krop Crocidolomia binotalis pada kubis, dan penggerek buah Heliothis armigera pada tomat.

Beberapa keunggulan Meothrin:
  1. Berperan sebagai insektisida dan akarisida.
  2. Mengendalikan berbagai jenis hama, termasuk tungau.
  3. Mempunyai sifat repellent (pengusir) yang tinggi sehingga mencegah hama datang kembali.
  4. Bekerja secara unik pada sistem saraf hama sehingga penyebaran hama dapat terkendali dengan maksimal.

  • NUMECTIN 20 EC

NUMECTIN 20 EC Insektisida dan akarisida racun kontak dan lambung yang berbentuk pekatan yang dapat diemulsikan berwarna kuning untuk mengendalikan hama pada tanaman cabai dan kentang.

KEUNGGULAN PRODUK :
  1. Merupakan insektisida dan akarisida yang bersifat racun kontak dan lambung.
  2. Bersifat pula sebagai insektisida sistemik terbatas (translaminar).
  3. Cara kerja dengan menghentikan aktivitas makan dan peletakan telur hama segera setelah terkena kemudian mati.
  4. Efektif mengendalikan kutu (mite), pengorok daun (leaf miner) dan serangga penghisap (sucker insect).
  5. Diikat secara kuat oleh tanah dan dapat secara cepat didegradasi oleh mikroorganisme.
  6. Memberikan tingkat keamanan yang tinggi terhadap tanaman.
  7. Aktivitas translaminar yang dapat mengendalikan hama dalam waktu lama.
  8. Cocok digunakan dalam program Integrated Pest Management.
REKOMENDASI PENGGUNAAN



dan masih banyak lagi merek-merek lainnya yang mengandung akarisida. penggunaan pestida yang tepat dapat mengurangi resiko resistensi terhadap pestisida.
demikian selamat mencoba, semoga bermanfaat

PEMELIHARAAN TANAMAN CABAI

PEMELIHARAAN TANAMAN CABAI




PENGERTIAN PEMELIHARAAN TANAMAN

Pemeliharaan tanaman secara umum mencakup segala kegiatan yang berkaitan dengan upaya menjaga kelangsungan hidup tanaman agar tetap hidup sehat dan memiliki produksi tinggi / yang diharapkan. 

Kegiatan pemeliharaan tanaman cabe :

1. PENYULAMAN
2. PENYIRAMAN
3. PEMASANGAN AJIR / TURUS
4. PENYIANGAN
5. PEREMPELAN TUNAS LIAR
6. PEMUPUKKAN SUSULAN / PENGECORAN
7. PENGENDALIAN HAMA / PENYAKIT

1. PENYULAMAN
Penyulaman adalah kegiatan penanaman kembali bagian-bagian yang kosong bekas tanaman yang mati/diduga akan mati atau rusak sehingga terpenuhi jumlah tanaman normal dalam satu kesatuan luas tertentu sesuai dengan jarak tanamnya. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • bibit/benih satu jenis dengan tanaman utama
  • Umur bibit/benihnya samaDilakukan maksimal 10 hari setelah tanam
  • Bibit/benihnya sehat dan normal
2.PENYIRAMAN
Penyiaraman pada umumnya dilakukan pada tanaman muda atau pada kondisi tertentu dimana tanaman membutuhkan air yang cukup seperti pada musim kemarau atau saluran irigasi yang tersendat. Beberapa cara teknik penyiraman :
  • Penyiraman dengan menggunakan emrat
  • Dengan cara dikocor
  • Dengan cara penggenangan / dilep
  • Dengan cara penyemprotan / pengkabutan
  • Dengan cara tetes menggunakan selang/paralon. Dll.


3. PEMASANGAN AJIR/TURUS
Pemasangan ajir sebaiknya dilakukan sesegera mungkin setelah tanam atau maksimal 20 hari setelah tanam. Jika terlalu tua ditakutkan terjadi kerusakan pada akar yang semakin memanjang. Tujuan dari pemasangan ajir antara lain :
  • Untuk menopang pohon agar kokoh
  • Mempermudah dalam pemeliharaan
  • Agar tidak mudah roboh yang bisa mengakibatkab kerusakan pada akar
Catatan: Panjang ajir disesuaikan dengan varietas/ jenis cabe yang ditanam. pada umumnya jenis cabe saat ini ada yang mencapai ketinggian hingga 2 meter lebih.


4. PENYIANGAN
Penyiangan merupakan suatu kegiatan mencabut gulma yang berada di antara sela-sela tanaman pertanian dan sekaligus menggemburkan tanah. Penyiangan adalah penghilangan rumput atau tanaman liar di sekitar tanaman yang sedang kita rawat.


5.  PENYIANGAN
Beberapa tujuan penyiangan antaralain: 
  • mencegah persaingan dalam penyerapan air
  • Mencegah persaingan pupuk/unsur hara
  • Mencegah timbulnya hama penyakit
  • Mempelancar sirkulasi udara dan sinar matahari
  • Menggemburkan tanah
  • Memperlancar ruang gerak tanaman
  • Mempermudah dalam pemeliharaan
  • Enak dipandang
Penyiangan bisa dilakukan dengan berbagai cara antara lain:
  • Secara manual dengan tangan
  • Dengan kimia (herbisida)
  • Dengan menggunakan mulsa:
  • mulsa alami (Jermi, Ilalang dll)
  • Mulsa plastik

6.  PEREMPELAN
Perempelan adalah pemangkasan atau pembuangan tunas pada batang utama pohon cabe yang keberadaanya tidak diharapkan/dikehendaki.

Tujuan dari perempelan antara lain :
  • Merangsang pertumbuhan cabang pada batang utama yang menghasilkan bunga
  • Agar batang utama lebih besar dan kokoh
  • Agar menghasilkan buah yang banyak, besar dan seragam
  • Menghindari kelembapan yang berlebihan yang dapat memicu timbulnya hama dan penykit
  • Lebih mudah dalam pemeliharaan
Catatan : Perempelan sebaiknya dilakukan ketika tunas air masih kecil jangan sampai menunggu tumbu lebih besar karena akan terjadi luka pada batang yang lebih besar.




Pupuk N (Nitrogen)
  • Fungsi: pertumbuhan tanaman sepanjang musim
  • Jenis: tunggal (urea), majemuk (NPK,ZA).
Pupuk P (Fosfat)
  • Fungsi : diperlukan pada stadia awal pertumbuhan, perkembangan akar, anakan, dan mempercepat berbunga.
  • Jenis: tunggal (SP-36, TSP, P-alam), majemuk (NPK)
Pupuk K (Kalium)
  • Fungsi: memperkuat dinding sel tanaman, memperluas kanopi daun untuk fotosintesis, meningkatkan jumlah bunga & buah
  • Meningkatkan daya tahan terhadap penyakit
  • Jenis: tunggal (KCl, MOP), majemuk (NPK, KNO3).
Pupuk mikro
  • Fungsi : pembentuk klorofil, laju fotosintesis, bahan pembentuk enzim, berperan proses biokimia tanaman, fungsi akar. (Pupuk cair)
Pemupukan Sistem Kocor Sederhana
Pemupukkan dengan cara pengecoran dilakukan 10 hari 1 X , dengan dosis 200 ml pertanaman dengan komposisi sebagai berikut :
  • NPK Phonska 3 Kg
  • NPK Mutiara 1 Kg
  • ZA 1 Kg
  • Pupuk Organik 2 Ember (Kotoran domba 5 karung + EM$ 1 liter + gula/molase 0,25 Kg direndam dalam 1 drum selama 2 minggu)
Pada umur 40 hst dosis tersebut diatas ditambah KCL German 1 Kg /drum,menggantikan ZA.
Lakukan penyemprotan dan pengecoran CNG (Kalsium) 20 hari 1 kali. (pada umur 25,45,65,95 hst )

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT


PENGELOLAAN KESEHATAN TANAMAN CABAI
1). Kenali karakter/keadaan lahan dengan baik
2). kenali karakter tanaman dengan baik :
  • varietas
  • kebutuhan optimal tanaman untuk pertumbuhan
3). Diagnosis yang tepat tentang gangguan kesehatan :
  • gejala
  • penyebab dan sifat-sifatnya : dari mana sumbernya, cara hidup, bagaimana cara menular, dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya.
  • Pengorganisasian yang baik di antara para penanam dalam hamparan berdekatan
  • DOA (di atas langit masih ada langit).

CONTOH-CONTOH PRAKTIS STRATEGI YANG AMAN DAN MURAH
  1. Rotasi dengan tanaman jagung untuk mengendalikan layu bakteri dan Fusarium
  2. Penggunaan mulsa jerami untuk menghindari Phytophthora (tapi Thrips perlu diwaspadai)
  3. Penggunaan sabun cair (yang lembut) 1.5 – 2 cc /liter untuk mengendalikan tungau, thrips, kutu daun, kutu kebul
  4. Penggunaan Pupuk ZA untuk menghindari Phytophthora meningkatkan kesehatan tanah dan kebugaran bibit
  5. Penggunaan kelambu di pesemaian untuk mencegah infeksi awal oleh virus
  6. Pupuk kandang yang matang dan cukup untuk mencegah Fusarium (kompos kulit singkong sangat potensial)

Terimakasih


HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN CABAI

PENGENALAN HAMA/ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN

OPT (Organisme Pengganggu Tanama) antaralain: 
  • Hama
  • Penyebab Penyakit (Phatogen). Gejala lain mirip penyakit:
  • Kekurangan/ Kelebihan Unsur Hara menyebabkan sakit
HAMA
Hama Tanaman adalah organisme yang mengganggu atau merusak tanaman sehingga pertumbuhan dan perkembangannya terganggu. Binatang yang merusak tersebut diantaranya dari golongan:
  • Insecta (Berkaki/Tungkai Tiga Pasang)
  • Acarina (Berkaki/Tungkai Empat Pasang)
  • Molusca ( Berumah Keras )
  • Nematoda (Perakara Tanaman)
PENYAKIT
Penyakit Tanaman adalah penyebab tanaman menjadi sakit. Tanaman dikatakan sakit jika ada perubahan seluruh atau sebagian organ-organ tanaman yang menyebabkan terganggunya kegiatan fisiologisnya, atau sakit adalah penyimpangan dari keadaan normal

Penyebab sakit (Phatogen) ini bermacam-macam : Bakteri, Cendawan, Virus, kekurangan atau kelebihan air, kekurangan atau kelebihan unsur hara atau karena tanaman mendapatkan stress lingkungan misalnya suhu lingkungan yang terlalu panas atau terlalu dingin. Hama dan penyakit merupakan organisme parasit pada tanaman cabai atau tanaan lainnya.
HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN CABAI
1). Kutu Daun
  • Penyebab: Aphis gossypii, Myzus persicae
  • Sumber : tanaman solanaceae
  • Cara menyebar : angin, terbawa tangan pekerja
  • Faktor pemicu:
  • Cuaca kering, tidak banyak hujan dan panas

2). Kutu Putih
  • Penyebab: Pseudococcus sp.
  • Bulat Berwarna putih kehijauan
  • Menghisap cairan daun sehingga daun menjadi keriting
  • Selanjutnya menyebabkan gugur bunga. (Vektor embun jelaga)
  • Semut menyebarkan

3). Thrips
  • Penyeabab: Thrips palmi, Scirtothrips dorsalis 
  • Disebarkan oleh angin dan tangan pekerja
  • Sumber : tanaman solanaceae dan gulma
  • Banyak terjadi jika curah hujan sangat sedikit


4). Tungau
  • Penyebab: Polyphagus tarsonemus
  • Disebarkan oleh angin atau tangan pekerja
  • Sumber dari tanaman solanaceae
  • Banyak terjadi pada musim kering, area ternaungi, populasi meningkat jika terlalu banyak menggunakan pestisida atau pupuk daun yang mengandung belerang

5). Lalat Buah
  • Penyebab: Bactrocera dorsalis, B. cucurbitae, B. carambolae 
  • Sumber : buah terinfeksi, kepompong dalm tanah, tanaman ketimun, belimbing, tanaman cabai di sekitarnya
  • Cara menyebar: terbang aktif
  • Banyak terjadi pada peralihan musim
6). Layu Fusarium
  • Penyebab : cendawan Fusarium oxyporum 
  • Sumber : tanah dan sisa tanaman sakit
  • Cara menular : lewat tanah dan aliran air
Pemicu perkembangan penyakit :
  • lahan berpasir
  • pupuk N (ZA) terlalu tinggi
  • Kandungan unsur Mn dan Fe dalam tanah terlalu tinggi
  • Kurang pupuk kandang (matang)
  • Tanah kekurangan kalsium (Ca)
  • Jumlah nematoda tinggi
7). Layu Bakteri
  • Penyebab : bakteri Ralstonia solanacearum dan Pseudomonas solanacearum 
  • Sumber : tanah
  • Cara menular : tanah dan aliran air
  • Coklat susu dari batang yang direndam
Pemicu perkembangan penyakit:
  • lahan terlalu basah
  • tanah terlalu liat
  • pupuk N (urea) terlalu tinggi
  • populasi nematoda tinggi
  • sebelumnya lahan ditanami tembakau, terung, tomat, atau cabai

8). Rebah Semai/ Busuk Batang, Akar & Buah
  •  Penyebab : cendawan Phytophthora capsici 
  • Sumber : tanah, sisa tanaman sakit,
  • Cara menular : aliran air, percikan air, tanah terinfeksi
Pemicu perkembangan penyakit:
  • drainase jelek
  • pupuk N (Urea) terlalu tinggi
  • pupuk kandang tidak matang
  • banyak nematoda
  • sebelumnya lahan ditanam cabai atau ketimun






9). Busuk Daun
  • Penyebab Busuk Daun Pada Tanaman Cabai adalah: Phytoptora infestans 
  • Noda-noda hitam pada daun dan buah
  • Akhirnya menjadi kering, keras dan busuk.
  • Sanitasi tidak teratur
10). Antraknosa (Patek)
  • Penyebab Patek Pada Tanaman Cabai adalah : cendawan Colletotrichum
  • Sumber : benih dan sisa tanaman sakit
  • Cara menular : percikan air (termasuk penyemprotan pestisida), hujan angin, tangan pemetik buah
Pemicu perkembangan penyakit :
  • benih tidak sehat
  • kondisi tajuk terlalu lembab
  • pupuk N terlalu tinggi
  • tanah kekurangan Ca





11). Penyakit Sentik

  • Penyebab Sentik Pada Tanaman Cabai adalah: Choanephora cucurbitarum
  • Sumber : tanaman cabai sakit, ketimun, terong, kacang panjang, bertahan di dalam tanah
  • Cara menular : hujan angin, percikan air tanah
  • Pemicu perkembangan penyakit: Pupuk N berlebihan (kurang P dan K), hujan angin, sirkulasi udara yang tidak memadai, cuaca hangat dan lembab


12). Bercak Daun Cercospora
  • Penyebab : Cercospora capsici
  • Sumber : sisa tanaman sakit
  • Cara menular : angin
  • Faktor pemicu : hujan ringan yang terus menerus, tajuk yang terlalu rapat, serangan meningkat pada peralihan musim



13). Bercak Bakteri
  • Penyebab : Xanthomonas campestris pv. Vesicatoria (bakteri)
  • Sumber : sisa tanaman sakit, benih, tanaman tomat
  • Cara menular : hujan angin
  • Faktor pemicu : hujan dan suhu hangat, lapisan embun yang lama di permukaan daun

14). Virus Kuning
  • Penyebab : gemini virus
  • Sumber : gulma, tanaman sakit lainnya (cabai, tomat)
  • Cara menular : kutu kebul
Pemicu perkembangan penyakit :
  • tanaman mulai terserang sejak bibit
  • banyak terjadi di musim kemarau (pembibitan dan penanaman)
  •  populasi kutu kebul tinggi




 15). Mosaik Ketimun
  • Penyebab : virus mosaik ketimun
  • Sumber : tanaman lain sakit (cabai, ketimun, tomat, tembakau), gulma ?
  • Cara menular : kutu daun
  • Pemicu perkembangan : populasi kutu daun tinggi, persemaian sudah terserang, kurangnya sanitasi.


16). Chilli Veinal Mottle Virus (ChiVMV)
  •  Penyebab : ChiVMV
  • Sumber : tanaman lain sakit (cabai
  • Cara menular : kutu daun
Pemicu perkembangan :
  • populasi kutu daun tinggi
  •  persemaian sudah terserang
  • kurangnya sanitasi

17). Virus Kentang Y (PVY)
  • Sumber : Tanaman sakit lainnya (Cabai, kentang, tembakau)
  • Cara menular : kutu daun
  • Pemicu perkembangan penyakit : populasi kutu daun tinggi


Fase-fase kritis tanaman cabai terhadap beberapa ancaman hama dan penyakit



PENGELOLAAN KESEHATAN TANAMAN CABAI

a). Kenali karakter/keadaan lahan dengan baik
b). Kenali karakter tanaman dengan baik :
  • varietas
  • kebutuhan optimal tanaman untuk pertumbuhan
c). Diagnosis yang tepat tentang gangguan kesehatan :
  • gejala
  • penyebab dan sifat-sifatnya : dari mana sumbernya, cara hidup, bagaimana cara menular, dan faktor-faktoryang mempengaruhi perkembangannya.
d). Pengorganisasian yang baik di antara para penanam alam hamparan berdekatan
e). DOA (di atas langit masih ada langit)

 CONTOH-CONTOH PRAKTIS STRATEGI YANG AMAN DAN MURAH
  1. Rotasi dengan tanaman jagung untuk mengendalikan layu bakteri dan Fusarium
  2. Penggunaan mulsa jerami untuk menghindari Phytophthora (tapi Thrips perlu diwaspadai)
  3. Penggunaan sabun cair (yang lembut) 1.5 – 2 cc /liter untuk mengendalikan tungau, thrips, kutu daun, kutu kebul
  4. Penggunaan Pupuk ZA untuk menghindari Phytophthora
  5. Solarisasi tanah pesemaian untuk meningkatkan kesehatan tanah dan kebugaran bibit
  6. Penggunaan kelambu di pesemaian untuk mencegah infeksi awal oleh virus
  7. Pupuk kandang yang matang dan cukup untuk mencegah Fusarium (kompos kulit singkong sangat potensial)

BP3K Kabandungan
Sekian, semoga bermanfaat

Persiapan Lahan dan Penanaman Cabai Merah

 PERSIAPAN PENGELOLAAN LAHAN DAN PENANAMAN CABAI

A. Tahap Pengolahan Tanah Awal
  •  Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman/akar2 dari tanaman sebelumnya.
  • Tanah dibajak/dicangkul sedalam 25 - 30 cm, kemudian dikeringkan 7-14 hr.
  •  Dibentuk bedengan lebar 90 cm, tinggi 30-40 cm, lebar parit 70-80 cm. Panjang bedengan sebaiknya 12 meter.
  • Dibuat parit keliling selebar dan sedalam 50 cm.
  • Pada saat 80% bedengan terbentuk, diberi pupuk kandang 2 kg/tanaman. (Dosis 80 kg/12 meter panjang bedengan atau 32 ton/ha =16.000 pohon)
  • Diberikan Dolomit 150 gr/tanaman (Dosis 6 kg/12 meter panjang bedeng atau 2,4 ton/ha = 16.000 pohon.)
  • Pupuk kandang dan Dolomit dicampur secara merata, diangin-anginkan selama kurang lebih 2 minggu.

B. Pemasangan Mulsa
  • Sebelum tutup mulsa bedengan diberi pupuk kimia dgn perbandingan 2 kg NPK phonska : 2 kg ZA : 2 kg SP36. diberikan 4 kg untuk 12 meter bedengan (40 pohon)
  • Setiap 100 kg pupuk campuran tsb.ditambah 1 kg Borate/Boronat dan 2 kg Furadan.
  • Tanah bedengan diratakan, disiram air ( larutan EM4), pemasangan mulsa pada saat terik matahari agar memuai ( pukul 10 s/d 15.00 )

C. Jarak Tanam/Pola Tanam
  • Cabe + Tomat
  • Cabe + Tomat + Sampho
D. Pengelolaan Lahan Untuk Bibit Cabe
  1. Kebutuhan benih cabe merah untuk 10 rol mulsa, 9-10 amplop ( +- 16.000 btr)
  2. Benih disemai di bedengan dalam bumbungan dan diberi naungan.
  3. Campuran tanah bumbungan 10 liter tanah halus + 10 liter pupuk kandang matang halus + Dolomit 100 gr +100gr pupuk NPK + 100 gr Furadan.


Media semai
  • Perbandingan tanah (Sub soil 20 cm dari tanah atas) + pupuk kandang adalah 1 : 1 ditambah Dolomit secukupnya.
  • Tanah Sub soil dan pupuk kandang di peram selama 3 hari disemprot pakai EM4.
  • Tanah media semai diberi Furadan sebelum digunakan dengan dosis 2 ember media semai dicampur 100 gr furadan.
  • Dapat digunakan langsung ke bumbungan atau media semai diatas tanah.

Teknik-Teknik Pembibitan
   a. Pola  pertama:
  • Benih Cabe direndam air hangat kuku selama 1 malam.
  • Ditiriskan diatas koran selama 2 jam.
  • Ditabur dipersemaian.
  • Ditutup pakai tanah tipis-tipis, disemprot pakai Pentacur + Pentacarb untuk menghindari hama semut dan penyakit rebah batang, ditutup pakai karung + daun Pisang. Selama 6-7 hari baru dibuka.
  • Umur 14 hari di pindah dalam bumbung.
  • Umur tanam cabe 25 – 30 hari dari tabur siap tanam.
 b. Pola Kedua
  • Dapat juga benih ditata dalam rak kayu atau bambu.
  • Selama bibit dipersemaian pemeliharaan rutin dilakukan, penyiraman 1-2 kali/hari. Penyemprotan pupuk daun dosis 0,5 gr/ltr air.
  • Penyemprotan fungisida sistemik Pentacur ( Rebah bibit/batang )


E. Tahap Penanaman
  • Bibit ditanam pada pagi/sore hari, umur 25-30 hari atau 3-4 lembar daun.
  •  Bumbungan daun pisang bisa langsung ditanam,bila dari plastik/polibag harus dikeluarkan dengan cara dibalik agar tanah tidak pecah.
  • Selesai tanam segera disiram sampai tanahnya cukup basah.

F. Pemasangan Ajir (Turus)
  • Pemasangan ajir dilakukan pada saat tanaman masih muda 2-3 minggu setelah tanam untuk menghindari kerusakan akar.
  • Ukuran ajir sesuai kebutuhan dan peruntukan tumpangsari ( 2 m x 3 cm )

sekian semoga bermanfaat,
Hatur Nuhun

untuk analisa kasar usaha tani cabae merah lihat disini

Penanaman Cabai Merah Konvensional "dirilis berdasarkan hasil riset BP3K Kabandungan"



A. Pengelolaan Tanah  
Tahapan pengolahan tanah dilakukan dengan tata cara sebagai berikut :
  1. Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman atau perakaran dari pertanaman sebelumnya.
  2. Tanah dibajak atau dicangkul sedalam 25 - 30 cm, kemudian dikeringkan selama 7 - 14 hari.
  3. Tanah yang sudah agak kering segera dibentuk bedengan-bedengan selebar 90 cm, tinggi 30 - 40 cm, lebar parit 70 - 80 cm, sedangkan panjang bedengan sebaiknya lebih dari 12 meter. Khusus pada tanah yang banyak mengandung air (mudah becek), sebaiknya parit dibuat sedalam 50 cm.
  4. Di sekeliling lahan kebun cabai dibuat parit keliling selebar dan sedalam 50 centimeter. ( khusus tanah sawah )
  5. Pada saat 80% bedengan kasar telah terbentuk, bedengan dipupuk dengan pupuk kandang (kotoran ayam, domba, kambing, sapi ataupun kompos) yang telah matang sebanyak 2 kg/tanaman. ( 80 kg/bedengan panjang 12 meter)
  6. Pada tanah yang pH-nya masam, bersamaan dengan pemberian pupuk kandang dilakukan pengapuran/ pemberian dolomit sebanyak 150 - 250 gram / tanaman. ( 6 – 10 kg/bedengan panjang 12 meter)
  7. Pupuk kandang dan kapur pertanian dicampur dengan tanah bedengan secara merata sambil dibalikkan, kemudian dibiarkan diangin - anginkan selama kurang lebih 2 minggu.
Catatan :
Jika populasi cabai merah per 9 - 10 amplop antara 16.000 tanaman pada jarak tanam 60 x 70 cm, maka diperlukan pupuk kandang 16 - 32 ton, dan kapur pertanian 2,4 – 4 ton / ha.

B. Persiapan Benih dan Pembibitan

Bersamaan dengan terbentuknya bedengan kasar, dilakukan penyiapan benih dan pembibitan di pesemaian. Untuk lahan (kebun) seluas 1 ha, 10 rol mulsa diperlukan benih + 9 - 10 bungkus kemasan masing-masing berisi 10 gram. Benih dapat disemai langsung dalam bumbung (koker) yang terbuat dari daun pisang ukuran 3 x 3 cm, dengan proses dikecambahkan terlebih dahulu melalui pendederan benih. 
Sebelum dikecambahkan, benih cabai sebaiknya direndam dulu dalam air hangat kuku selama 1 malam untuk mempercepat proses perkecambah-an dan mencuci hamakan benih tersebut. Bila benih cabai akan disemai langsung dalam bumbung, maka sebelumnya bumbung harus diisi dengan media campuran tanah halus, pupuk kandang matang halus, dolomit, ditambah pupuk NPK dihaluskan serta Furadan. Sebagai pedoman untuk campuran adalah : tanah halus 1 bagian (1 ember volume 10 liter) + 1 bagian pupuk kandang matang halus (1 ember volume 10 liter) + 100 gr Dolomit + 100 gr pupuk NPK dihaluskan (digerus) + 100 gr Furadan. 

Bahan media semai tersebut dicampur merata, lalu dimasukkan ke dalam bumbung hingga 90% penuh. Benih cabai merah yang telah direndam, disemaikan satu per satu sedalam 0,5 cm, lalu ditutup dengan tanah tipis. Berikutnya semua bumbung yang telah diisi benih cabai disusun di bedengan secara teratur disemprot dengan Pentacarb dan Pentacur dan segera ditutup dengan karung goni basah dan daun pisang selama + 6 hari agar cepat berkecambah. Bila benih dikecambahkan terlebih dahulu, maka sehabis direndam harus segera dimasukkan ke dalam lipatan kain basah (lembab) selama + 3 hari. Setelah benih keluar bakal akar sepanjang + 1 mm, dapat segera disemaikan ke dalam bumbung. Cara ini untuk meyakinkan daya kecambah benih yang siap disemai dalam bumbung.

Catatan: Tata cara penyemaian benih ke dalam bumbung prinsipnya sama seperti cara di atas hanya perlu alat bantu pinset agar kecambah benih cabai tidak rusak. 

Penyusunan bumbung berisi semaian cabai dapat ditata dalam rak-rak kayu atau bambu, namun dapat pula diatur rapi di atas bedengan-bedengan selebar 110 - 120 cm. Setelah semaian cabai tersebut diatur rapi, maka harus segera dilindungi dengan sungkup dari bilah bambu beratapkan plastik bening (transparan) ataupun jaring net kassa. Selama bibit di pesemaian, kegiatan rutin pemeliharaan adalah penyiraman 1-2 kali/hari atau tergantung cuaca, dan penyemprotan pupuk daun Fertiport pada dosis rendah 0,5 gr/liter air saat tanaman muda berumur 10 - 15 hari, serta penyemprotan pestisida (Pentacur) pada konsentrasi setengah dari yang dianjurkan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit rebah batang. Bibit Cabe merah siap tanam umur 25-30 hari. Dan tomat umur 18 hari atau berdaun 4 helai.

C. Pemasangan Mulsa
Sebelum Mulsa dipasang untuk menutupi permukaan bedengan, terlebih dahulu dilakukan pemupukan pupuk buatan secara total sekaligus. Jenis dan dosis pupuk yang biasa digunakan untuk cabai merah adalah sebagai berikut :
Untuk praktisnya dapat menghitung pupuk per bedengan. Misalnya panjang bedengan 12 meter, jarak tanam 60 x 70 cm akan berisi 40 tanaman. Jadi, pupuk yang diperlukan sejumlah + 2 s/d 4 kg tergantung dari kesuburan tanah, yang terdiri atas perbandingan 2 ZA : 2 TSP : 2 NPK Phonska, dengan catatan tiap 100 kg pupuk campuran tadi ditambahkan 1 kg Borate/Boronat dan 2 kg Furadan. Campuran pupuk buatan ini disebar merata sambil diaduk dan dibalikkan dengan tanah bedengan. Kemudian bedengan diratakan kembali sambil dirapihkan, dan setelah itu disiram air secukupnya atau disemprot dengan larutan EM4, agar pupuk dapat larut ke lapisan tanah. Pemasangan Mulsa sebaiknya memperhatikan cuaca, yakni pada saat terik matahari antara pukul 10.00 - 15.00 agar plastik tersebut memanjang (memuai) dan menutupi tanah serapat mungkin. 

Pemasangan Mulsa minimal dilakukan oleh 2 orang. Caranya adalah : tariklah kedua ujung Mulsa ke masing-masing ujung bedengan arah memanjang. Kemudian dikuatkan dengan pasak bilah bambu berbentuk "U" yang ditancapkan di setiap sisi bedengan.

Berikutnya tarik pula lembar Mulsa ke bagian sisi kiri kanan (lebar) bedengan hingga nampak rata menutup permukaan bedengan. Kuatkan dengan pasak bilah bambu pada setiap jarak 40 - 50 cm. Bedengan yang telah ditutup Mulsa dibiarkan dulu selama + 5 hari agar pupuk buatan larut dalam tanah dan tidak membahayakan (toksis) bibit cabai yang ditanam.

D. Penanaman
Waktu tanam yang paling baik adalah pagi atau sore hari, dan bibit cabai telah berumur 25 - 30 hari atau berdaun 3 - 4 helai. Sehari sebelum tanam, bedengan yang telah ditutup Mulsa harus dibuatkan lubang tanam dulu. Jarak tanam untuk cabai merah adalah 60 x 70 cm atau 70 x 80 cm ( sesuai kebutuhan pola tanam ). Pembuatan lubang tanam dapat menggunakan alat bantu khusus yang terbuat dari potongan pipa besi diisi arang. Penggunaan alat ini dengan cara menempelkan ujung bawahnya pada Mulsa sesuai dengan jarak tanam yang telah ditetapkan.

Dengan cara demikian Mulsa akan berlubang berupa bulatan-bulatan kecil berdiameter + 6 - 8 cm. Selain itu, dapat juga menggunakan alat bantu bekas kaleng susu yang salah satu permukaannya telah dipotong. Cara penggunaan kaleng bekas susu ini adalah : tutupkan pada calon lubang tanam yang telah ditetapkan, kemudian putarlah sambil ditekan alakadarnya, maka akan langsung terbentuk lubang kecil. Cara lain adalah menggunakan pisau silet atau pisau cutter dengan cara dikeratkan langsung pada Mulsa berbentuk bulatan kecil. 

Bibit cabai merah yang siap dipindah tanamkan segera disiram dengan air bersih secukupnya. Kemudian sisemprot dengan larutan fungisida sistemik ( Pentacur) atau bakterisida pada dosis 0,5 - 1,0 cc/liter, untuk mencegah penularan penyakit (Phytium/rebah batang). Setelah media semainya cukup kering, bibit cabai merah dikeluarkan dari bumbung secara hati-hati. Caranya : ambil bumbung berisi bibit sambil dibalikkan dan pangkal batang bibit cabai dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah.
Bagian dasar bumbung daun pisang ditarik secara pelan dan hati-hati, maka bibit cabai akan keluar bersama akar dan medianya. Bibit cabai merah siap langsung ditanam pada lubang tanam yang tersedia.

Cara penanaman bibit cabai adalah :
Mula-mula sebagian tanah pada lubang tanam diangkat kira-kira seukuran media bumbung; kemudian bibit dimasukkan sambil diurug tanah hingga dekat pangkal batangnya cukup padat. Bibit cabai merah yang disemai dalam bumbung ini, begitu dipindah tanamkan langsung tumbuh (segar) tanpa mengalami kelayuan (stagnasi). Selesai tanam, segera disiram sampai tanahnya cukup basah.
Pemasangan ajir (turus)

Cabai merah umumnya berbuah lebat, sehingga untuk menopang pertumbuhan tanaman agar kuat dan kokoh serta tidak rebah perlu dipasang ajir (turus) dari bilah bambu setinggi 125 cm atau 2 meter tergantung kebutuhan pola tanam, lebar + 4 cm dan tebalnya + 2 cm. Ajir dipasang (ditancapkan) tegak tiap tanaman cabai 1 ajir secara berjajar mengikuti arah panjang bedengan. Antara ajir dengan ajir lainnya dihubungkan dengan bilah bambu memanjang (gelagar) tepat pada ketinggian 80 cm dari permukaan tanah. Pemasangan ajir harus sedini mungkin, yakni pada saat tanaman belum berumur 1 bulan setelah pindah tanam. Hal ini untuk mencegah terjadinya kerusakan akar tanaman cabai sewaktu memasang (menancapkan) ajir. 

E. Pemeliharaan Tanaman Cabe Merah
  1. Lakukan perompesan pada tunas-tunas air, dan peliharalah cabang berbentuk “ V “
  2. Lakukan pemupukan dengan cara pengecoran 10 hari 1 x dengan dosis 200 ml per tanaman dengan komposisi sbb :
    • NPK Phonska 3 kg
    • NPK Mutiara 1 kg untuk 1 drum (200 liter)
    • ZA 1 kg
    • Pupuk organik 2 ember.
    • ( Kotoran domba 5 karung + EM4 1 liter + Gula/molase 0,25 kg direndam dalam 1 drum selama 2 minggu )
  3. Umur 40 hst, dosis tsb. Diatas di tambah KCL German 1 kg/drum, menggantikan ZA.
  4. Lakukan penyemprotan dan pengecoran CNG (Kalsium)20 hari 1 kali. ( umur 25, 45, 65, 95 hst )

Aryadi / BP4K Kabandungan